Kisah Penari Telanjang, Selir Sultan Brunei

"Kala
itu, Sultan adalah pria terkaya di dunia. Sebagai remaja, saya masih
sangat lugu dan benar-benar tergiur dengan pekerjaan itu," katanya. Ia
mengatakan bahwa Sang Pangeran ternyata selalu mengadakan pesta setiap
malam di istana yang dipenuhi benda-benda mewah yang terbuat dari emas.
"Di
pesta-pesta itu selalu ada banyak minuman alkohol yang sebenarnya di
sana ilegal. Banyak tarian, karaoke, dan yang paling penting ada sekitar
30 hingga 40 selir lain yang berasal dari berbagai belahan dunia,"
lanjutnya.
VIVAnews -
Ini kisah di Brunei Darussalam. Negeri di daratan Kalimantan yang
tengah menegakkan hukum syariah. Tapi siapa duga, Sang Sultan, orang
nomor satu di negeri ini justru melanggar sendiri.
"Pada
hari Selasa saya disambut wajah yang akrab saat membaca berita pagi,
Sultan Brunei. Ia terlihat jauh lebih tua dibanding saat saya
mengenalnya dulu. Wajahnya juga terlihat lebih letih." Begitu kalimat
yang dituliskan Jillian Lauren, wanita yang pernah menjadi selir
Pangeran Jefri Bolkiah, adik dari Sultan Brunei Hassanal Bolkiah yang
mengaku beberapa kali dipinjamkan Pangeran untuk "melayani" Sang Sultan.
Lewat
sebuah artikel di The Daily Beast, Lauren menuliskan bagaimana Sultan
Brunei melanggar hukum syariah, hukum yang baru-baru ini ia berlakukan
di Brunei.
Ia
bercerita bahwa ia menjadi selir Pangeran saat masih remaja berusia 18
tahun. Ia mengatakan bahwa kala itu, Sultan dan sang adik bukanlah orang
yang jahat.
"Mereka adalah manusia biasa, yang luar biasa kaya," tulisnya.

Jillian
Lauren, wanita yang pernah menjadi selir Pangeran Jefri Bolkiah, adik
dari Sultan Brunei Hassanal Bolkiah yang mengaku beberapa kali
dipinjamkan Pangeran untuk "melayani" Sang Sultan.
Ia
kemudian menyinggung soal Sultan Hassanal Bolkiah yang pada Kamis, 1
Mei 2014 lalu mulai menerapkan hukum pidana Syariah di Brunei. Ini
merupakan penerapan syariah Islam yang pertama dilakukan oleh sebuah
negara di Asia Tenggara dan akan diberlakukan secara bertahap.
Hukum
tersebut mengatur segala hal mulai dari hukum pidana yang meliputi
hukuman rajam hingga hukuman mati untuk perzinahan, pemerkosaan, dan
sodomi. Memotong anggota badan untuk pencurian dan hukuman cambuk untuk
aborsi, konsumsi alkohol, dan homo seksual.
"Saya
bukan seorang ahli hak asasi manusia internasional. Satu-satunya
kualifikasi saya dalam mengomentari hal ini adalah satu malam di awal
tahun 1990-an di mana saya dan Sultan sama-sama mabuk dan menikmati
lampu-lampu kota Kuala Lumpur dari atas penthouse suite," kisahnya.
Lauren
memang telah mengejutkan publik saat ia meluncurkan buku karyanya pada
2010 lalu yang berjudul "Some Girls: My Life in a Harem" berisi tentang
kisah hidupnya selama enam bulan menjadi selir Pangeran Brunei.

Awal
mulanya ia menerima pekerjaan di Singapura untuk menghibur para
pebisnis kaya sebagai penari telanjang di sebuah klub malam di
Singapura. Ia kemudian baru mengetahui bahwa sebenarnya ia dipekerjakan
untuk menjadi selir Pangeran Jefri Bolkiah, saudara laki-laki paling
muda dari Sultan Brunei.
"Kala
itu, Sultan adalah pria terkaya di dunia. Sebagai remaja, saya masih
sangat lugu dan benar-benar tergiur dengan pekerjaan itu," katanya.
Ia
kemudian bercerita mengenai kehidupan Kerajaan di Brunei yang ia lihat
dengan mata kepalanya sendiri setibanya di sana. Ia mengatakan bahwa
Sang Pangeran ternyata selalu mengadakan pesta setiap malam di istana
yang dipenuhi benda-benda mewah yang terbuat dari emas.
"Di
pesta-pesta itu selalu ada banyak minuman alkohol yang sebenarnya di
sana ilegal. Banyak tarian, karaoke, dan yang paling penting ada sekitar
30 hingga 40 selir lain yang berasal dari berbagai belahan dunia,"
lanjutnya.
Ia
menggambarkan kehidupannya sebagai selir merupakan petualangan yang
glamor dan menarik. Namun, ia tak menampik bahwa saat itu ia begitu
kesepian karena dipingit di dalam istana.
"Meskipun saya bukan tahanan, tapi saya tidak dibebaskan untuk datang dan pergi kapan pun yang saya inginkan," katanya.
Selama
enam bulan menjadi selir pangeran Jefri Bolkiah, ia mendapat bayaran
3.000 ribu dolar AS atau Rp 34,7 juta. Jumlah yang fantastis di masa
itu. Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk membiayai kuliahnya,
membeli mobil dan pindah ke California. Namun, saat ini Lauren tinggal
di Los Angeles dan berprofesi sebagai penulis.
Ia
mengungkapkan ketidaksetujuannya atas hukuman rajam yang akan menimpa
para perempuan di Brunei. Ia mengatakan bahwa rajam dipraktekkan dan
disahkan oleh hukum di 15 negara. Hal ini sangat tidak proporsional
karena seringkali diterapkan pada perempuan sebagai hukuman untuk
perzinahan.
Lauren
juga menambahkan bahwa kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty
International and Human Rights Watch bahkan mengangap hukuman tersebut
sangat kejam dan merupakan salah satu bentuk penyiksaan.
Menurut
organisasi hak-hak internasional, Women Living Under Muslim Law, rajam
adalah salah satu bentuk kekerasan yang paling brutal yang dilakukan
terhadap perempuan untuk mengontrol dan menghukum seksualitas dan
kebebasan dasar mereka.
"Namun, telah menjadi hak istimewa Sang Pangeran dan Sultan untuk berperilaku buruk. Untuk orang lain yang berada dalam batas-batas Brunei, muslim dan non-muslim, kebebasan telah dibatasi dan untuk menegakkan keterbatasan dilakukanlah kekerasan brutal," tulisnya.
"Namun, telah menjadi hak istimewa Sang Pangeran dan Sultan untuk berperilaku buruk. Untuk orang lain yang berada dalam batas-batas Brunei, muslim dan non-muslim, kebebasan telah dibatasi dan untuk menegakkan keterbatasan dilakukanlah kekerasan brutal," tulisnya.

Sultan Hasanal Bolkiah bersama kedua isterinya
Lauren
juga berpendapat bahwa sebagai warga negara yang hidup di masyarakat
sosial yang bebas, telah menjadi haknya untuk melakukan apa pun selama
ia tidak melanggar hukum dan mengganggu kebebasan orang lain.
"Sudah
menjadi hak prerogatif saya untuk tidur dengan pangeran-pangeran mana
pun yang saya inginkan. Saya hidup dengan pilihan-pilihan saya,"
katanya.
"Sekarang,
di saat warga Brunei menghadapi keterbatasan akan hak-hak mereka, saya
membayangkan orang yang saya kenal, bersembunyi di suite hotel mewah,
mungkin dengan remaja Amerika lainnya duduk di pangkuannya, membuat
undang-undang yang mengatur moralitas."