'Obral' pelacur lokal di Legian Bali
Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com
Merdeka.com - Malam
kian larut di Jalan Legian, Kuta, Bali. Namun aktivitas di sini terus
berdenyut hingga pukul empat dini hari. Makin malam, suasana semakin
liar. Pelancong luar negeri dari berbagai negara seliweran di Legian.
Tak terkecuali pelancong lokal dan Asia. Mereka mencari kesenangan, atau
sekedar minum alkohol di Bar yang ada hingga dalam gang di kawasan
Legian hingga pantai Kuta.
Dibalik dentuman musik malam kawasan
Legian, banyak pelacur lokal menjajakan diri. Tidak hanya pelacur yang
terang-terangan mangkal, sopir taksi dan tukang ojek bisa menyediakan
pelacur lokal. "Cewek om," kata Lana, 30 tahun seorang sopir taksi saat
menawari
merdeka.com.
Lana mematok tarif tidur
dengan pelacur asal Bali Rp 400 ribu. Tarif itu sudah sekaligus kamar
selama 1 jam. "Rp 400 ribu 1 jam, dijamin cantik-cantik," ujarnya
setengah memaksa. Selain pelacur, Lana juga menawarkan Ekstasi untuk
pesta di Club. Satu butir dia menawarkan seharga Rp 500 ribu.
Begitu
pekerjaan sambilan sopir taksi dan tukang ojek di kawasan Jalan Legian.
Mulai dari Ujung jalan hingga masuk di kawasan Legian, hampir semua
tukang ojek menawarkan wanita.
Awalnya hanya menawarkan jasa angkutan, jika tidak di respons, jual
pelacur akan terlontar dari bibirnya. "Nyari cewek? Ayo ada nih," teriak
tukang ojek di ujung Jalan Legian.
Made, 50 tahun, tukang ojek
asal Karang Asem menawarkan untuk tidur dengan pelacur lokal. Harganya
lebih murah dibanding dengan Lana, dia mematok untuk tidur sejam dengan
pelacur lokal Rp 350 ribu. Made boleh dibilang tipikal memaksa, dia
terus mengejar untuk menawarkan pelacur dagangannya.
"Ada kalo
mau yang lokal, tapi tidak disini," kata Made. Dia lantas menyuruh
merdeka.com naik sepeda motornya. Tidak berselang lama, dia langsung
menancap kuda besinya menuju ke kawasan perbatasan daerah Seminyak.
Waktu
tempuh dengan sepeda motor ke kawasan seminyak sekitar sepuluh menit.
Memutari Kawasan Legian dengan melewati gang hingga ujung Jalan Legian.
Disana, pelacur dagangan Made berkumpul di sebuah losmen. Ada tiga kamar
di losmen itu. Seorang pria berbadan tegap dan sangar menunggu di pintu
masuk losmen. Sedangkan satu pria lagi menunggu di pinggir jalan untuk
memastikan pelacur masih tersedia.
"Ada," kata pria itu kepada
Made. Dia lantas mengantarkan masuk ke dalam losmen. Disana ada tiga
pelacur duduk di bangku depan kamar. Mereka merokok sambil memainkan
seluler. "Ayo mas," kata wanita berambut lurus dengan kulit kuning
langsat menawarkan layanan ranjangnya kepada merdeka.com.
Selain
di Losmen itu, Made punya chanel lain pelacur dagangannya. Selepas dari
Losmen, Made mengantarkan ke sebuah minimarket di Jalan Dewi Sri. Disana
sebuah mobil Toyota Avanza Silver terparkir. Di dalamnya ada tujuh
pelacur menunggu untuk diajak tidur. Semuanya kata Made wanita lokal
asal Bali. Sebelum sampai kesana, Made menjamin pelacurnya cantik dan
montok. Dia juga menjamin, belum pernah ditiduri oleh bule.
Made
lantas memberikan kode kepada pria di depan minimarket. Dengan oboral
singkat memakai bahasa Bali, pria itu menunjuk ke mobil Avanza.
"Nih
mas, katanya dia mau kencan sama cowok ganteng kaya mas," kata wanita
di dalam mobil sambil menunjuk temannya yang kebetulan duduk dibangku
paling depan.
Omongan Made ternyata bohong. Pelacur di dalam
Avanza itu sedang ditawar oleh Bule. Kebetulan saat itu seorang bule
lelaki paruh baya sedang bernegosiasi untuk tidur dengan pelacur. Dia
diantarkan oleh dua tukang ojek. Saat ada kesepakatan harga, pelacur
bewajah cantik dengan tubuh aduhai itu lantas dibawa oleh bule itu
menuju ke arah Jimbaran.