PSK

Flexslider

    PSK di Tanah Abang keluyuran siang-siang, warga tanya FPI ke man

    PSK di Tanah Abang keluyuran siang-siang, warga tanya FPI ke man

    PSK di Tanah Abang keluyuran siang-siang, warga tanya FPI ke man
    Demo FPI Bentrok. ©2012 Merdeka.com/arie basuki
    Merdeka.com - Kurang dari 1 km dari Tanah Abang, terdapat Kantor Pusat Front Pembela Islam (FPI). Tepatnya di Jalan Petamburan III/17, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

    FPI dikenal garang dan tegas dalam melakukan aksi sweeping. Dari minuman keras, tempat hiburan hingga Pekerja Seks Komersial (PSK). Terlebih di bulan suci Ramadan.

    Ironisnya, di Tanah Abang yang wilayahnya bergandengan dengan Kantor Pusat FPI, para pelacur berjejer menjajakan diri di siang bolong. Dengan dandanan menor, mereka tak malu-malu merayu para pria yang melintas untuk kencan.

    Mereka-mereka PSK mangkal di penjual minuman dan rokok di sepanjang Jalan Jati Baru, Tanah Abang.

    "Mana polisi dan mana FPI, mereka 24 jam jablay-jablay masih ada dan beroperasi," kata salah satu pedagang di Tanah Abang kepada merdeka.com, Jakarta, Jumat (2/8).

    Pria kelahiran Tanah Abang ini menilai jika operasi yang digelar polisi hanya bersifat sementara. Dirinya amat menyayangkan ormas dan kepolisian yang enggan menindak PSK-PSK yang masih tetap beroperasi.

    "Padahal ini masih bulan Ramadan nyatanya masih ada (PSK). Selain itu preman yang ditangkap paling juga sebentar keluar," jelasnya.

    Salah satu PSK setengah tua yang masih menunggu pria hidung belang adalah Linda. Wanita asal Klaten ini mengaku jika ingin mengumpulkan pundi-pundi uang dari pelayanannya.

    "Ayo mas, ngamar yuk, rilek dan santai-santai sambil tiduran," ajak Linda.

    Linda mengaku terpaksa harus menjajakan diri untuk biaya mudik. Wanita berusia 40 tahunan ini mau pulang kampung ke Klaten, Jawa Tengah beberapa hari lagi.

    "Rp 200.000 aja mas, sekali ngamar. Buat ongkos mudik," rayu Linda pada pria yang melintas.
    [ian]

    Ada hotel di Palembang terang-terangan sediakan ayam kampus

    Ada hotel di Palembang terang-terangan sediakan ayam kampus

    Ada hotel di Palembang terang-terangan sediakan ayam kampus
    Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com
    Merdeka.com - Praktik prostitusi, baik di hotel atau panti pijat biasanya terselubung. Namun di Palembang, ada hotel melati yang terang-terangan menyediakan ayam kampus dalam pelayanan kepada pelanggan.

    Tak heran jika hotel tersebut hampir setiap hari selalu penuh. Saat masuk ke hotel itu, pengunjung akan disuguhkan puluhan wanita berpakaian seksi di dalam ruangan kecil dengan pembatas kaca. Pengunjung hanya menunjuk wanita mana yang dipilih.

    Wanita-wanita itu dijajakan oleh seorang pria yang menjadi mucikari dengan tarif sewa kamar plus PSK tersebut. Biasanya 'show' itu baru dimulai mulai pada pukul 23.00 WIB. Pengunjung akan ditawari langsung masuk kamar atau minum-minum terlebih dahulu di kafe hotel untuk sekadar perkenalan.

    "Yang mana kak. Kalau yang itu bagus layanannya, masih baru pula. Kalau mau ditunjuk saja, nanti saya bawa," kata mucikari pada setiap pelanggan.

    Untuk tarif, bervariasi, tergantung kelas wanita yang dipilih. Paling murah Rp 250 ribu untuk satu jam kencan, dan paling mahal Rp 600 ribu termasuk biaya kamar.

    "Kalau mau semalaman bisa, tinggal nego saja. Setidaknya satu juta, tapi 'main'nya di hotel sini juga, enggak bisa diajak keluar," sambungnya.

    Sebenarnya, hotel tersebut kerap menjadi sasaran razia polisi maupun Satpol PP kota setempat. Namun, razia tersebut tak mampu menutup operasionalnya.

    "Memang sering dirazia. Tapi pengunjung santai saja karena kalau ada razia langsung dikasih tahu melalui bel di kamar masing-masing. Pengunjung bisa keluar dulu sebelum petugas datang," ungkapnya.
    [ded]

    2 Gadis asal Bandung dijual ke tempat karaoke mesum di Palembang

    2 Gadis asal Bandung dijual ke tempat karaoke mesum di Palembang

    2 Gadis asal Bandung dijual ke tempat karaoke mesum di Palembang
    Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com
    Merdeka.com - Dua gadis asal Bandung PS (14) dan IN (17) dijual DN (44) untuk dipekerjakan di tempat hotel yang memiliki fasilitas karaoke esek-esek di Palembang. DN membujuk PS dan IN ini dengan iming-iming gaji besar untuk bekerja menjadi karyawan biasa.

    Namun nyatanya keduanya malah jadi pemandu lagu di tempat karaoke itu dan harus melayani tamu hingga melakukan persetubuhan.

    "Kami awalnya mendapat laporan dari keluarga korban. Ibu korban datang dan menyampaikan anaknya dipekerjakan di Palembang di tempat karaoke untuk menjadi pemandu lagu," kata Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi di Mapolrestabes Bandung, Selasa, (15/4).

    Pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Polresta Palembang. Tim diterjunkan langsung ke tempat kejadian perkara dan menggerebek sebuah tempat karaoke tersebut.

    "Kita amankan tersangka yang DN sedangkan DD (manajer hotel) masih dalam pengejaran," ujar Mashudi.

    Sementara itu, ibu dari PS, Endang (37) tidak mengetahui bahwa anaknya dijual untuk menjadi pemandu lagu di Palembang. Dia pada 21 Maret lalu sudah tidak mendapati kabar putrinya selama dua hari.

    "Saya tiba-tiba mendapatkan telpon dari anak saya, dan tiba-tiba sudah ada di Palembang, anak saya telepon tidak betah," jelasnya. Dia pun kemudian melaporkan kepada Polrestabes Bandung.

    Kasus ini tengah ditangani unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Sat Reskrim Polrestabes Bandung. Adapun barang bukti yang telah diamankan tiket pemberangkatan bis Kramatjati tujuan Palembang dan satu buah buku tulis pembukuan.

    Tersangka dijerat tentang undang-undang perlindungan anak atau pemberantasan tindak pidana perdagangan orang pasal 88 UURI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 2 UURI No 21 Tahun 2007 tentang TP TTPO. "Ancamannya 15 tahun penjara," terangnya
    [hhw]

    'Obral' pelacur lokal di Legian Bali

    'Obral' pelacur lokal di Legian Bali

    'Obral' pelacur lokal di Legian
    Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com
    Merdeka.com - Malam kian larut di Jalan Legian, Kuta, Bali. Namun aktivitas di sini terus berdenyut hingga pukul empat dini hari. Makin malam, suasana semakin liar. Pelancong luar negeri dari berbagai negara seliweran di Legian. Tak terkecuali pelancong lokal dan Asia. Mereka mencari kesenangan, atau sekedar minum alkohol di Bar yang ada hingga dalam gang di kawasan Legian hingga pantai Kuta.

    Dibalik dentuman musik malam kawasan Legian, banyak pelacur lokal menjajakan diri. Tidak hanya pelacur yang terang-terangan mangkal, sopir taksi dan tukang ojek bisa menyediakan pelacur lokal. "Cewek om," kata Lana, 30 tahun seorang sopir taksi saat menawari merdeka.com.

    Lana mematok tarif tidur dengan pelacur asal Bali Rp 400 ribu. Tarif itu sudah sekaligus kamar selama 1 jam. "Rp 400 ribu 1 jam, dijamin cantik-cantik," ujarnya setengah memaksa. Selain pelacur, Lana juga menawarkan Ekstasi untuk pesta di Club. Satu butir dia menawarkan seharga Rp 500 ribu.

    Begitu pekerjaan sambilan sopir taksi dan tukang ojek di kawasan Jalan Legian. Mulai dari Ujung jalan hingga masuk di kawasan Legian, hampir semua tukang ojek menawarkan wanita.
    Awalnya hanya menawarkan jasa angkutan, jika tidak di respons, jual pelacur akan terlontar dari bibirnya. "Nyari cewek? Ayo ada nih," teriak tukang ojek di ujung Jalan Legian.

    Made, 50 tahun, tukang ojek asal Karang Asem menawarkan untuk tidur dengan pelacur lokal. Harganya lebih murah dibanding dengan Lana, dia mematok untuk tidur sejam dengan pelacur lokal Rp 350 ribu. Made boleh dibilang tipikal memaksa, dia terus mengejar untuk menawarkan pelacur dagangannya.

    "Ada kalo mau yang lokal, tapi tidak disini," kata Made. Dia lantas menyuruh merdeka.com naik sepeda motornya. Tidak berselang lama, dia langsung menancap kuda besinya menuju ke kawasan perbatasan daerah Seminyak.

    Waktu tempuh dengan sepeda motor ke kawasan seminyak sekitar sepuluh menit. Memutari Kawasan Legian dengan melewati gang hingga ujung Jalan Legian. Disana, pelacur dagangan Made berkumpul di sebuah losmen. Ada tiga kamar di losmen itu. Seorang pria berbadan tegap dan sangar menunggu di pintu masuk losmen. Sedangkan satu pria lagi menunggu di pinggir jalan untuk memastikan pelacur masih tersedia.

    "Ada," kata pria itu kepada Made. Dia lantas mengantarkan masuk ke dalam losmen. Disana ada tiga pelacur duduk di bangku depan kamar. Mereka merokok sambil memainkan seluler. "Ayo mas," kata wanita berambut lurus dengan kulit kuning langsat menawarkan layanan ranjangnya kepada merdeka.com.

    Selain di Losmen itu, Made punya chanel lain pelacur dagangannya. Selepas dari Losmen, Made mengantarkan ke sebuah minimarket di Jalan Dewi Sri. Disana sebuah mobil Toyota Avanza Silver terparkir. Di dalamnya ada tujuh pelacur menunggu untuk diajak tidur. Semuanya kata Made wanita lokal asal Bali. Sebelum sampai kesana, Made menjamin pelacurnya cantik dan montok. Dia juga menjamin, belum pernah ditiduri oleh bule.

    Made lantas memberikan kode kepada pria di depan minimarket. Dengan oboral singkat memakai bahasa Bali, pria itu menunjuk ke mobil Avanza.

    "Nih mas, katanya dia mau kencan sama cowok ganteng kaya mas," kata wanita di dalam mobil sambil menunjuk temannya yang kebetulan duduk dibangku paling depan.

    Omongan Made ternyata bohong. Pelacur di dalam Avanza itu sedang ditawar oleh Bule. Kebetulan saat itu seorang bule lelaki paruh baya sedang bernegosiasi untuk tidur dengan pelacur. Dia diantarkan oleh dua tukang ojek. Saat ada kesepakatan harga, pelacur bewajah cantik dengan tubuh aduhai itu lantas dibawa oleh bule itu menuju ke arah Jimbaran.

    Pelacur lokal di Legian lebih suka dikencani bule

    Pelacur lokal di Legian lebih suka dikencani bule

    Pelacur lokal di Legian lebih suka dikencani bule
    Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com
    Merdeka.com - Bali menjadi surga para pelancong baik lokal maupun mancanegara. Pantai dan keindahan alam Bali yang eksotik memiliki daya tarik tersendiri.

    Saban pagi hingga sore menjelang, pelancong bule mulai berjemur di Pantai Kuta. Mereka hanya mengenakan celana dalam dan kutang. Ada juga yang tidur berjemur tanpa menggunakan bra dengan posisi tengkurap. Aktivitas seperti itu sudah biasa di Bali.

    Namun di balik sisi Eksotiknya, Bali juga menyimpan masalah sosial. Sejak menjamurnya para pelancong, prostitusi juga mulai menjamur di tempat ini. Seperti misalnya daerah Nusa Dua, di sana para pemburu birahi dimanjakan wanita lokal dalam akuarium.

    Pelacur-pelacur asal Indonesia itu menjadi buruan para pelancong bule maupun Timur Tengah. Satu jam tarifnya bermacam-macam. Mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

    "Kalau di Nusa dua Rp 500 ribu," kata Lana, 30 tahun sopir taksi merangkap calo pelacur di Legian saat berbincang dengan merdeka.com, Senin dini hari lalu.

    Lana lantas menawarkan pelacur lokal di Legian. Tarifnya Rp 400 ribu satu jam atau sekali kencan. Dia menjamin pelacur dagangannya belum pernah ditiduri oleh turis bule. Usianya pelacur tersebut 20 sampai 22 tahun.

    "Saya nggak ambil disini, ada nggak jauh dari sini hanya 10 menit. Tinggal pilih dalam mobil, kalau nggak cocok tidak apa-apa," ujarnya menawarkan.

    Lana mengakui jika di pelacur di kawasan Legian memang tidak cocok bagi orang Indonesia. Selain bekas ditiduri turis bule, pelacur lokal itu juga jarang berminat dengan orang Indonesia. Alasannya masuk akal, orang Indonesia beda ukuran dengan orang bule.

    Selain Lana, Gede, 50 tahun juga merupakan calo pelacur lokal di legian. Dia mangkal untuk menjual jasa ojek tidak jauh dari Padies Pup. Sampingannya menjadi calo pelacur lokal. Bagi Gede, dia tidak memungkiri jika pelacur lokal di Legian memang sudah tidak lagi seorsinil aslinya.

    "Kalau disini memang semuanya bekas Bule," kata dia.

    Omongan Lana dan Gede memang bukan isapan jempol jika kebanyakan pelacur lokal lebih doyan dengan bule. Selain berkantong tebal, 'milik' mereka juga diyakini besar. Seperti penelusuran merdeka.com di Legian. Lima orang pelacur sejak pukul 12.00 WITA berdiri di samping tembok dekat sebuah kelab. Mereka menanti bule keluar dari kelab itu. Dengan senyum manis dan pakaian serba seksi, mereka merayu setiap Bule lelaki melintas.

    Selain menawarkan diri, pelacur itu juga dijajakan oleh calo di sepanjang Legian. Wina, salah satu pelacur menawarkan jasa menjualkan diri selama satu jam Rp 500 ribu. Dia ogah untuk menurunkan harga, meski beberapa bule memintanya Rp 400 ribu untuk sekali kencan.

    "Rp 500 mau nggak," katanya saat dirayu.

Berita